Pemerintah Berkicau: Separuh Penduduk Pidie Miskin

SIGLI – Dari 430.741 jiwa total penduduk Kabupaten Pidie, hampir separuh di antaranya, yakni 213.371 jiwa (setara dengan 49,54 persen) berada di bawah garis kemiskian, berdasarkan data Bappeda per Februari 2011. Penyebab kemiskinan itu, antara lain, karena faktor budaya (malas), minimnya tingkat pendidikan, dan masih terjadinya kebodohan di kalangan rakyat yang papa.

Info tentang hampir setengah penduduk Pidie miskin, diperoleh Serambi di Sigli, Sabtu (19/3) petang, dari Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pidie, Maddan.

Tentang faktor-faktor penyebab kemiskinan ia kemukakan beserta contoh. “Salah satu contohnya, banyak lahan tidur yang tidak digarap maksimal, padahal dari sini dapat menghasilkan pendapatan yang memadai,” kata Maddan.

Faktor lainnya, menurut Maddan, adalah budaya malas yang masih menjangkiti sebagian penduduk Pidie, sehingga peluang untuk mendapatkan usaha terlewati begitu saja. “Budaya malas dan  kebiasaan lambat laun juga mengakibatkan kemiskinan. Padahal, budaya ini bisa digantikan dengan bersikap rajin, cekatan, dan tanggap merebut peluang usaha,” ujar mantan asisten III Setdakab Pidie ini.

Begitupun, menurutnya, dibandingkan penduduk Pidie tahun 2010, jumlah orang miskin pada tahun 2011 ini di Pidie telah berkurang.  Pada tahun lalu tercatat 227.852 warga miskin atau setara 55,98 persen. Sedangkan tahun ini hanya 49,54 persen. Tapi, kalau dikalkulasikan secara rata-rata, baik tahun lalu maupun sekarang, lebih dari separuh penduduk Pidie dikategorikan miskin.

Dia tambahkan, di Pulau Jawa, orang yang makan sehari cuma dua kali dikategorikan miskin karena dipastikan tidak mampu membeli nasi. Tapi di Aceh boleh jadi orang malas makan pagi, tapi ia malah minum kopi dan makan kue. “Oleh karenanya, data kemiskinan yang dipakai Jawa tidak sama dengan yang di Aceh,” tuturnya.

Di sisi lain, katergori miskin yang dihimpun adalah penduduk yang mendapat bantuan beras untuk keluarga miskin (raskin). Jadi, variabel raskin ini menjadi salah satu tolok ukur penentuan seseorang atau satu keluarga miskin atau tidak.

Saat ini Kabupaten Pidie memiliki 23 kecamatan, 730 gampong, dan 91 mukim. Ditilik dari data Bappeda, lumbung kemiskinan terbesar justru di wilayah pedesaan.

Oleh karena itu, kata Maddan, program pembangunan Kabupaten Pidie ke depan diarahkan untuk peningkatan sektor ekonomi, antara lain, peningkatkan lapangan kerja. “Kita juga ingin menekan angka pengangguran kita yang mencapai 13.493 jiwa untuk data tahun 2011,” sebutnya.

Maddan juga mengimbau masyarakat Pidie agar jeli dan kreatif menciptakan lapangan kerja baru dengan memanfaatkan lahan pertanian produktif. “Janganlah malas berusaha. Terutama orang tua hendaklah memberi pendidikan yang memadai dan aktif memotivasi putra-putrinya sehingga tidak mengganggur,” Maddan bersaran.

Kabupaten Pidie dikenal sebagai daerah penghasil buah melinjo yang umumnya diolah menjadi kerupuk mueling. Kabupaten ini juga memiliki hamparan sawah dan kebun kakao yang luas, di samping memiliki banyak tambak ikan dan udang. Berdagang dan bertani merupakan mata pencaharian mayoritas penduduknya. Sebagian besar anak muda dan pria dewasanya merantau, bahkan ke luar negeri.

Sumber: Serambi News.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s