Unsyiah Idiots?

(Apresiasi untuk Saiful Mahdi)

“UNSYIAH dan Perubahan”, begitu judul opini yang ditulis Saiful Mahdi (Serambi Indonesia, 4 September 2010). Membaca uraiannya, cukup menggelitik. Bagaimana tidak, Saiful Mahdi yang juga dosen Unsyiah, berani memberikan otokritiknya terhadap kampus yang telah mencetak dan menjadikannya sebagai orang terpandang di Unsyiah dan di tempat lainnya.

Memang, bukan kali ini saja pandangan otokritik senada disampaikan para dosen yang mulai jenuh dengan kondisi Unsyiah. Namun yang mesti digaris bawahi, otokritik-otokritik senada keluar perlahan-lahan seperti sudah lama tertahan-tahan. Tertahan-tahan karena hilangnya keberanian mengkritisi para pembuat kebijakan. Atau bisa jadi tertahan-tahan karena hilangnya medium untuk mengapresiasi sebuah kritik. Bisa juga tertahan-tahan karena berbagai kepentingan yang entah-berantah pentingnya.

Saya yakin, tidak semua dosen sefaham dengan tulisan Saiful Mahdi. Tidak semua dosen mau mengakui beberapa catatan yang dituliskannya, apalagi berupaya membenah sistem Unsyiah yang bobrok ini. Fenomena tersebut tidak usah terlalu dihiraukan. Bagaimanapun juga, akan ada dosen yang kontra terhadap rezim kepemimpinan, begitu juga dengan dosen yang pro terhadap rezim kepemimpinan agar Unsyiah senantiasa meunan-meunan mantong alias seperti itu-itu saja.

Sebelumnya, bila kita sedikit menyelami tulisan Sofyan A Gani tentang refleksi Hardikda yang memantik Saiful Mahdi untuk menuliskan secara lebih transparan dalam “Unsyiah dan Perubahan”, maka dengan seksama kita dapat memahami, ada kekecewaan mendalam dari para dosen Unsyiah terhadap pelayanan Unsyiah itu sendiri untuk mencetak generasi berkualitas. Kasarnya, beberapa dekade kepemimpinan rektor Unsyiah belum menuai hasil yang memuaskan untuk meningkatkan kualitas anak-anak Aceh sebagai universitas terkemuka di Aceh.

Bila dosen saja mulai merasakan kekecewaan tersebut, apalagi mahasiswa? Sebagai salah satu mahasiswa di kampus ternama itu, rasanya saban hari baik ketika saya berada di kantin, ruang belajar, apalagi laboratorium, mahasiswa selalu mengeluhkan buruknya fasilitas yang ada karena setiap tahun hampir tak pernah ada pengadaan baru, alias fasilitasnya meunan-meunan mantong.

Ironisnya, setiap tahun Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) justru meroket. Lain lagi dana gini-gono yang membuat orang tua mahasiswa kalang-kabut. Hal ini khususnya dialami para mahasiswa baru yang akan menempuh studi perdananya di Jantong Hatee.

Misalnya saja, untuk SPP tahun ini sebagaimana SK Rektor Unsyiah Nomor 461 Tahun 2010. Jumlah biaya SPP, dan biaya lainnya rata-rata melonjak 50 persen. Bila mahasiswa baru tahun ajaran 2009/2010 hanya harus membayar Rp 475.000, maka tahun ini mahasiswa baru tahun ajaran 2010/2011 dipaksa membayar Rp 750.000. Ditambah lagi dana tambahan yang mencapai Rp 700.000 (Untuk beberapa jurusan bahkan lebih). Padahal tahun lalu, dana tambahan hanya sekitar Rp 455 ribu hingga Rp 585 ribu. Belum selesai, masih ada lagi kewajiban mahasiswa untuk membayar dana kelembagaan sebesar Rp 281.000. Bila dijumlahkan, biaya kuliah mahasiswa baru tahun ini mencapai Rp 1.731.000.

Mahasiswa baru dari program regular harus membayar kepada Unsyiah untuk mendapatkan pendidikan yang kualitasnya buruk. Bagaimana dengan mahasiswa di Jalur Mandiri, D3, dan prodi baru lainnya yang disentil Dr Saiful Mahdi sebagai objek-objek yang menyuburkan praktik korupsi? Tentu biaya yang harus dibayarkan jauh lebih tinggi. Sungguh kampus yang aneh, mendapatkan pendidikan yang buruk saja mahal, apalagi pendidikan yang berkualitas. Sudah pasti Unsyiah hanya akan menjadi perusahaan pendidikan, bukanlah lembaga pendidikan. Sepertinya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perlu bersilaturrahmi ke Unsyiah!

Dengan biaya yang sangat tinggi itu, rasanya sangat sulit bagi mahasiswa belajar untuk membesarkan jiwanya. Melainkan mereka hanya berlomba-lomba untuk menyelesaikan tuntutan Sistem Kredit Semester (SKS). Berlomba-lomba untuk mencari nilai, mencari nilai yang tinggi untuk mendapatkan pekerjaan. Tak peduli pekerjaan itu sepadan dengan dasar ilmu yang dimiliki. Itu lah yang saya amati di kampus sehari-hari.

Jangan heran jika kelak mereka punya pekerjaan aebagai dokter, maka mereka hanya akan menjadi dokter duitan. Dokter yang tak punya belas dan kasih. Jangan heran pula jika kelak mereka menjadi politisi, maka mereka akan menjadi politisi yang korup. Dan banyak lagi profesi-profesi lainnya yang bisa disalahgunakan karena tidak memiliki jiwa yang besar. Daripada itu, jangan harap Aceh ini akan menjadi bangsa yang besar nantinya.

Teringat sebuah film India berjudul “ Three idiots” yang berhasil mendapatkan penghargaan sebagai film bertema pendidikan terbaik di India. Sebuah film yang juga telah menjadi santapan sejumlah anak muda Aceh. Dimana Dr Viru Sastrabhuddi, rector universitas tersebut selalu mengibaratkan hidup ini layaknya burung Cuckoo yang tak pernah memiliki sarang. Sebuah burung yang menjadikan sarang burung lainnya untuk bertelur. Tiba saatnya akan menetas, burung Cuckoo malah menjadikan sarang tersebut sebagai sarangnya. Menendang telur lainnya ke luar sarang untuk menetaskan anaknya. Begitulah hidup, ibarat sebuah kompetisi yang hanya tahu hidup atau mati.

Dengan pandangan seperti itu, para mahasiswa tak pernah berani melakukan aneka terobosan. Yang mereka tahu hanyalah menyelesaikan kuliah dan berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan. Ternyata, tidak semua mahasiswa mau menerima sistem yang dipraktikkan oleh Dr Viru, sang penguasa. Dengan gaya kocaknya Ranchodas Chanchad, seorang mahasiswa baru di universitas tersebut ingin berupaya merubah sistem pendidikan kampus tersebut yang menurutnya hanya menelurkan keledai-keledai masa depan saban tahun. Keledai-keledai yang hanya tahu untung dan rugi.

Dengan berbagai hadangan dan fenomena, Ranchodas ditemani dua kawannya Raju dan Farhan, Dr Viru akhirnya sadar dengan apa yang diperbuat. Bahwa ada banyak kebijakannya yang berujung pada buruknya input yang dihasilkan universitas pimpinannya saban tahun. Bahwa secara tidak langsung diakuinya, melalui tangannya lah lahir keledai-keledai yang hanya tahu untung dan rugi.

Apa yang terjadi di Unsyiah saat ini tentu tak bisa disamakan seperti fenomena yang terjadi dalam film tersebut. Akan tetapi paling tidak, Unsyiah sedang membuat filmnya sendiri untuk dipertontonkan bagi anak dan cucu Aceh kelak. Diakui atau tidak, anak dan cucu Aceh masa depan akan tertawa terbahak-bahak menonton film Unsyiah seperti saya dan beberapa kawan-kawan terbahak-bahak menonton “Three Idiots”. Menertawakan Dr Viru Sastrabuddhi karena keegoisannya. Bila benar akan ada film Unsyiah layaknya “Three Idiots” itu di masa depan, bolehkan saya memberi judul “Unsyiah Idiots?”.

Bila itu tepat, jangan salahkan siapa-siapa jika nanti anak dan cucu Aceh akan menertawakan kepemimpinan Unsyiah hari ini. Mari kita terbahak-bahak atau mari kita berubah?

* Yuli Rahmad

Penulis adalah mahasiswa Teknik Elektro, Unsyiah.
Dikutip dari serambinews.com

2 thoughts on “Unsyiah Idiots?

  1. Perlu transparansi dalam manajemen Unsyiah.., tidak sepadan biaya kuliah dengan apa yang saya dapat.., belum lagi rentetan beasisiwa yang masuk..,masih ada praktik nepotisme..,
    bagaimana mencetak lulusan yang membanggakan Aceh bila mana Dosen yang tidak komitmen dengan jadwal, terlambat. lainnya tanpa ada penggantinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s